6 Kebiasaan Makan Buruk yang Tingkatkan Ancaman Bakteri

kebiasaan makan

Selama tiga dekade terakhir, para ilmuwan dan profesor makanan di Clemson University, AS, Paul Dawson telah belajar bagaimana beberapa kebiasaan makan ini dapat meningkatkan penyebaran bakteri dalam sistem manusia. Namun sebelum membahas tentang kebiasaan makan yang mampu merangsang bakteri, ada baiknya jika Anda mengetahui tentang apa itu bakteri secara lebih jelas.

Bakteri adalah suatu organisme yang jumlahnya paling banyak dan tersebar luas dibandingkan dengan organisme lainnya di bumi. Bakteri umumnya merupakan organisme uniseluler (bersel tunggal), prokariota/prokariot, tidak mengandung klorofil, serta berukuran mikroskopik (sangat kecil). Bakteri berasal dari kata bahasa latin yaitu bacterium. Bakteri memiliki jumlah spesies mencapai ratusan ribu atau bahkan lebih. Mereka ada di mana-mana mulai dari di tanah, di air, di udara, pada organisme lain, dan juga berada di lingkungan yang ramah maupun yang ekstrim.

Dalam tumbuh kembang bakteri, baik melalui peningkatan jumlah maupun penambahan jumlah sel sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni seperti ph, suhu temperatur, kandungan garam, sumber nutrisi, zat kimia dan zat sisa metabolisme. Bakteri juga memiliki manfaat atau dapat menguntungkan bagi kehidupan. Misalnya, membantu menyuburkan tanah dengan menghasilkan nitrat, pengurai sisa makhluk hidup dengan pembusukan, Fermentasi dalam pembuatan makanan dan minuman, penghasil obat-obatan seperti antibiotik, mengurai sampah untuk menghasilkan energi, serta membantu dalam pembuatan zat-zat kimia, dan lainnya.

Selain menguntungkan bakteri juga mampu berdampak buruk bagi kehidupan manusia, misalnya:

  • Menyebabkan penyakit bagi makhluk hidup, termasuk manusia (bakteri parasit/patogen)
  • Membusukkan atau membuat basi makanan yang kita miliki
  • Merusak tanaman dengan serangan penyakit yang merugikan (bakteri parasit/patogen)
  • Menimbulkan bau yang tidak sedap hasil aktivitas pembusukan
  • Membuat tubuh manusia kotor dipenuhi bakteri yang mengakibatkan bau badan

Menurut laporan CNN, setiap tahun, Prof Dawson dan kelompoknya melakukan proyek penelitian yang berkaitan dengan kebiasaan makan dan kemudian mengukur seberapa kotor kebiasaan-kebiasaan tersebut. Berikut ini ada sekiranya enam kebiasaan yang biasa dilakukan saat makan yang menyebabkan penyebaran bakteri terjadi. Apa sajakah itu? Yuk, kita simak selengkapnya:

1. Peraturan makan sebelum 5 menit

Hampir semua orang telah mendengar atau melakukan hal ini. Bahkan ini sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan masyarakat. Ketika makanan terjatuh ke lantai, maka seseorang atau kita sendiri akan berkata “belum 5 menit” jadi masih layak untuk di makan.

Namun tahukah Anda jika itu sebenarnya tergantung pada jenis makanan, jenis permukaan, dan jenis serta jumlah bakteri. Misalnya, makanan padat yang jatuh pada permukaan padat atau yang terlihat bersih, mungkin itu tidak akan membuat terlalu banyak bakteri berpindah. Tapi ketika makanan basah yang jatuh di atas permukaan karpet? Maka jangan coba-coba untuk memberlakukan “belum 5 menit” ya!!!

2. Dipping Ganda

Mencelupkan makanan ke dalam mangkuk berulang kali setelah menggigit itu disebut double dipping. Prof Dawson dan kelompoknya menguji jumlah transplantasi bakteri ketika makanan dua kali dicelupkan ke dalam tiga jenis saus yaitu salsa, cokelat leleh dan keju queso. Sekali lagi ditegaskan, jika itu tergantung pada jenis saus (jenis makanannya), namun yang pasti, populasi bakteri yang lebih tinggi ditemukan setelah melakukan pencelupan ganda pada makanan.

Meskipun ada transfer bakteri minimum dalam coklat cair dan queso – ada lima kali lebih banyak transplantasi dalam salsa. Teorinya adalah chip chip jatuh ke dalam mangkuk salsa, maka ia akan mampu membawa bakteri masuk ke dalamnya.

3. Memakan Popcorn di Bioskop

Sebenarnya kebiasaan ini tidaklah terlalu buruk. Namun, Prof Dawson dan timnya mengungkapkan bahwa ada risiko penyebaran bakteri dari kebiasaan ini. Penyebaran bakteri E-coli ini terjadi dari tangan subjek atau mereka yang berbagi semangkuk popcorn. Mereka menemukan bahwa jumlah transfer bakteri adalah minimum – kurang dari peningkatan 1%. Jumlahnya memang tidaklah besar, namun tetap saja itu dikategorikan sebagai kebiasaan yang mampu menyebarkan bakteri.

4. Tiup Lilin pada Kue Ulang Tahun

ulang tahun

Jumlah bakteri bervariasi sesuai dengan bagaimana seseorang meniup lilin, kata Prof Dawson. Menurut penelitiannya, meniup lilin ke atas lapisan icing menyebabkan peningkatan sebesar 1.400%, atau 15 kali lebih banyak dibandingkan dengan lapisan icing yang tidak memiliki lilin yang ditiup. Icing adalah hiasan untuk melapisi atau menutup kue, cake, dan biskuit, tetapi dapat juga dipakai sebagai model dekorasi berbagai lapisan permukaan kue.

5. Air Dengan Lemon (atau Buah-Buahan Lainnya)

Prof Dawson menguji kadar pemindahan bakteria di antara tangan, es dengan kepingan lemon basah dan kering. Ada 100% bakteria dipindahkan dari kepingan lemon basah, sementara hanya 30% dipindahkan dari kepingan kering. Rata-rata, ada 19% bakteria di tangan dipindahkan ke es, dan juga sekitar 66% bakteria pada sendok yang dipakai.

6. Menu Makanan

Biasanya, hal pertama yang diberikan oleh restoran setelah duduk di meja adalah menu makanan. Pastinya bukan hanya Anda yang datang ke restoran tersebut. Sebelum Anda, menu makanan sudah berpindah-pindah tangan, dan itu menjadi salah satu kebiasaan penyebaran bakteri. Tetapi Prof. Dawson dan kumpulannya mendapati bahwa bakteria dipindahkan hanya dengan mengendalikan menu. Pertukaran menu di restoran semasa waktu puncak menghasilkan jumlah bakteria yang lebih tinggi.

Jenis- jenis Bakteri

Pada banyak kasus keracunan makanan, mikroba adalah salah satu penyebab iritasi lambung dan usus. Konsekuensinya pun bisa sakit perut, muntah dan diare. Oleh sebab itu, penting untuk mewaspadai kontaminasi makanan dan perhatikan kebersihannya. Berikut ini ada 10 bakteri yang sering ditemukan pada makanan.

1. Norovirus

Norovirus adalah patogen yang dapat menyebabkan muntah dan diare. Pada 2014, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melaporkan, norovirus adalah penyebab paling umum gastroenteritis yang menginfeksi lebih dari 19 juta orang per tahun di Amerika Serikat. Yang perlu Anda ketahui, bakteri ini dapat menular. Gejalanya pun bisa Anda alami selama 60 jam.

Cara menghindarinya: Cuci buah dan sayuran dengan baik, dan pastikan mencuci tangan Anda dan hindari kontak dengan orang yang terinfeksi.

2. Salmonella

Bakteri ini biasanya terdapat pada daging, makanan laut, keju, susu yang tidak dipasteurisasi, jus, dan produk mentah. Cara menghindarinya: kurangi konsumsi telur setengah matang. Masak daging unggas dan sapi dalam suhu mendidih.

3. Botulisme

Spora C. botulinum dapat menyebabkan kegagalan pernafasan dan kematian. Gejalanya berupa sulit melihat, bicara cadel, kesulitan menelan, dan kelemahan otot. Cara menghindarinya: direkomendasikan untuk selalu mendidihkan makanan kaleng selama 10 menit sebelum Anda memakannya. Tips lainnya, makan kentang panggang yang dibungkus foil.

4. E-Coli

E-coli secara alami hidup di dalam tubuh manusia dan hewan. Sebagian besar bakteri ini tidak berbahaya. Tetapi beberapa strain, termasuk O157 atau H7 dapat mendatangkan malapetaka pada lapisan usus kecil ketika tertelan. Alhasil, Anda bisa mengalami diare, muntah dan kram perut parah. Cara menghindarinya: daging sapi yang tidak dimasak dengan benar adalah sumber umum infeksi. Sebisa mungkin konsumsi daging minimal medium rate.

5. Listeria

Beberapa bulan lalu, publik dikejutkan dengan penemuan bakteri listeria pada apel impor. Bakteri ini memang cukup berbahaya karena pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran atau penyakit yang serius bagi bayi baru lahir. Dan siapa pun dengan sistem kekebalan lemah berisiko tinggi terkena infeksi seperti leher kaku, kejang dan kehilangan keseimbangan. Cara menghindarinya: hindari makanan mentah, susu yang tidak dipasteurisasi, dan seafood beku.

6. Staph

Sebenarnya beberapa orang memiliki Staphylococcus aureus di kulit mereka, dan biasanya bakteri ini tidak menyebabkan masalah. Tapi ketika terjadi kontaminasi makanan dan kurang menjaga kebersihan, maka Anda bisa mengalami keracunan makanan.

Cara menghindarinya: lakukan cuci tangan rutin. Jauhi dapur ketika Anda sedang flu atau infeksi mata, maupun saat Anda mengalami luka atau infeksi kulit pada tangan.

7. Shigella

Bakteri ini menyebar melalui tinja. Biasanya penderitanya akan mengalami diare walaupun rasa sakit perut akan hilang sendiri dalam 5-7 hari. Cara menghindarinya: bila bepergian, pastikan gunakan wadah untuk makanan dan minuman yang aman dan dalam wadah tertutup.

8. Bacillus cereus

Bakteri ini dapat menyebabkan diare dan muntah. Untungnya, gejala ini hanya berlangsung selama sekitar 24 jam. Selagi Anda buang air, cobalah untuk tetap terhidrasi. Cara menghindarinya: hati-hati untuk tidak membiarkan sisa makanan terlalu lama. Simpan di lemari es bila Anda belum mau memakannya.

9. Toxoplasma gondii

Gejala toksoplasmosis bervariasi, seperti flu selama satu bulan atau lebih, dan kasus terberat dapat menyebabkan kerusakan otak. Cara menghindarinya: ibu hamil hindari konsumsi daging babi, domba, dan daging rusa.

10. Vibrio parahaemolyticus

Ditemukan di perairan payau, muara, dan teluk pantai, bakteri ini tumbuh subur selama musim panas untuk mencemari kerang. Gejala terpapar bakteri ini adalah dapat berupa kram, muntah, demam dan biasanya berlangsung hingga tiga hari. Untuk membentengi diri dari berbagai macam bakteri Anda harus membiasakan diri untuk hidup sehat. Ingatlah selalu untuk mencuci tangan sebelum makan, cuci dengan bersih buah atau sayur yang hendak Anda konsumsi, dan jangan jajan sembarangan.

Itulah beberapa informasi yang bisa kami sampaikan, dan semoga saja itu akan membawa manfaat untuk Anda yang membaca. Terimakasih!!

Leave a Reply